Balada gubuk mungil yang tak berujung
Selalu saja ada yang kurang, ketika kita memiliki gubuk baru. Padahal, gubuknya gak gede-gede amat. Kenapa harus dipermak sedemikian hingga ya. Yaa.. namanya barang baru. Banyak memang peer yang harus kami siapkan. Dari depan sampai belakang. Dari atas sampai bawah. Semakin banyak “PeEr” semakin banyak pula yang harus diperbaiki ataupun ditambahi. Dan nantinya semua menuju ke satu arah. FULUSSSS….
Buset dah, kenapa harus ujung-ujungnya duit ya. Biaya berantai selalu melekat pada penghuni baru, baik itu kontrakan ataupun rumah bak lingkaran setan. bahasaneee… Jadi inget dulu pas masih awal menikah, dari tidur menggunakan kasur gulung Medan dengan lapisan kerdus, sampai tidur dengan menggunakan kasur kapuk, semua sudah kami jalanin. Dari jendela yang menggunakan korden sprei sampai mbawa korden dari Leces, itupun sudah pernah kami jalanin juga. hehe (kok ngere to leee…. Kerjo nang endi to). Dari makanan tahu tempe sampai ikan pindangpun sudah pernah kami jalanin (klo ini ma, hobbynya istri. Gak bisa diganggu gugat. nrima aja deh. hehe )
Oke, pos belanja yang kepingin untuk disediakan adalah.
Kanopi.
Memang, yang ini gak terlalu penting. Tapi untuk kondisi saat ini, bisa menjadi sesuatu hal yang penting. Kenapa? Daerah ane ujan terus gan, motor bakal keujanan terus nih. Terus…terus… mobil ane gimana gan. deziggghh… kayak puya mobil aja. Jarak antara pintu depan ruang terbuka di depan, tidak jauh banget. Alhasil, kalau sudah ketemu ujan + angin, bisa masuk tuh air.
Pernah ditawarin oleh orang, sebut saja namanya Pak F. Pak F itu sedang gencar-gencarnya pasang promosi dimana-mana. Sampai tetangga malam-malam sms ke istri. “kalau di Pak F bisa dinego bu, bagus kok” (yaa… intinya gitulah, tentunya dengan sedikit bumbu). Tapi entah kenapa masih kurang sreg, setelah melihat hasil teralis rumah. Oke, kisaran harga per meter persegi Pak F menawarkan 350rb. waaahh. Sedangkan Pak S (sebutnya saja pak security, dia menawarkan 330rb per meter persegi dengan kualitas yang sama dengan Pak F). woow, keren juga nih. Setiap kali bertemu dengan Pak S, sering kali ditanyakan. “Kapan Pak?”, “Jadi Pak?” Entah kenapa, semakin didesak, semakin ilfil mau pesan.
range harga : 330rb x 21meter persegi = 6.930 jt. (hadezzziighhhh…. ) alasan klasik untuk menghindar : Nunggu bonus ya Pak hwehehehe
Pagar
Pagar, satu hal yang masih menjadi perdebatan. hehe, pake debat segala. Lha gimana lagi, istri inginnya malah aneh-aneh coba. Semua sisi dipasangin pagar, dari depan samping kanan kiri. Samping kanan dan kiri dipasangin tembok yang tinggi. Dipasangin pagar yang tinggi biar gak diintip. weitss…
Konsep cluster, dimana-mana jarang yang menggunakan pagar. Karena Cluster memiliki 1 pintu untuk keluar masuknya. Mungkin karena di depan kami masih ada pembangunan, jadi tukang-tukang masih sering lalu lalang. Tapi bagaimanapun juga, cluster kan gitu. Jarang yang menggunakan pagar. Sepeda motor juga pernah taruh di luar kan, walaupun semalam doang. Memang sih, pernah was-was. Tapi mau bagaimana lagi, sodara pada dateng, masak motor ditaruh di ruang tamu. hehe
kisaran harga : masih menunggu tetangga sebelah, habisnya berapa to
Gorden aka Korden
Yang bener tulisannya Korden ato Gorden to. Gak jadi masalah, mari kita lanjutkan. Awal pertama menempati rumah, tidak ada rencana menggunakan korden seperti apa. Kembali, masih sprei tempat tidur yang masih bergelanyut indah menutupi tiap sudut jendela luar. Memang, jendela kami tidak terlalu besar. Dengan ukuran tinggi 213 dari kusen atas ke lantai, dan 107 lebarnya.
kisaran harga : Ini nih.. tiangnya aja beli cuman 60ribu. Tiang warna kuning yang bulat itu, dengan panjang 150cm. Dan kordennya beli pas ada diskon, seharga berapa ya. 200an mungkin
Kasur
Kita memang belum punya kasur yang memadai. Kasur kapuk masih kita gunakan sampai saat ini. Ya mau bagaimana lagi, memang istri lebih suka dengan kasur kapuk. Tetapi melihat kondisi saat ini, dan memperhatikan peyut istri yang sudah isi. alhamdulillah. Isi apa tapi ya hehe. Mungkin sudah saatnya kita mengalokasikan untuk pembelian kasur springbed. Kapan itu lihat di Home Solutionnya ES (Electronic Solution) ada kasur yang lumayan terjangkau. Florence mereknya. Bukan tipikal kami yang suka beli aneh-aneh sih, tapi karena keadaan sepertinya cocok juga nih. Hehehe
ouw…ouw..ouw.. kok banyak juga kebutuhannya. Selalu ada aja kebutuhan yang pingin dialokasikan untuk rumah mungil ini. Padahal sudah mungil, masih aja butuh banyak. Piye to
Nah.. jangan dikira kalau kebutuhan di atas udah selesai terpenuhi, bakal puas. Ternyata masih banyak PR (pekerjaan rumah) di sana-sini yang harus ditambal. Mari kita lihat satu-satu :
- Kamar pembantu : kayaknya perlu juga nih.. soalnya masih 2 kamar doang. Kok makin banyak ya.huff
- Halaman belakang dikasih kanopi : request istri lah.. pingin kalo ninggal jemuran, gak perlu was-was ujan.
- Kursi ruang tamu : request istri dari jati. Pingin kayak mamanya gitu deh. Bagus juga sih, klo di pasuruan 2 juta udah bagus tuh. Lha kalo di jakarta… weits, jangan harap murah dah. Bisa 2kalinya (kayak pameran di Tamini Square). bookkk nampol benar dah.
- de el el…de el el… banyak nian kayaknya. huff.
Harus tetap mengencangkan ikat pinggang kayaknya. Belum tamannya, belum bunga, belum tanamannya, belum kura-kura ambon request istri. Itu masih rumahnya, isinyapun juga masih sedikit. Kembali ke presentasi teman di kantor. Mungkin saat ini lebih difokuskan ke barang/kebutuhan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. huff.
Begitulah namanya keinginan… deritanya tiada akhir klo dibandingkan dengan fulus.
